Jika sempat berkunjung ke objek wisata Ketep Pass, tidak ada salahnya jika sempat mampir ke kawasan Air Terjun Kedung Kayang yang ada di Desa Wonolelo Kecamatan Sawangan Magelang.

Akses ke obyek wisata ini relatif mudah dijangkau baik menggunakan kendaraan bermotor maupun menggunakan trayek angkutan umum.

Ada dua jalur jika menggunakan angkutan umum menuju ke wilayah ini, yang pertama, dari bus AKAP anda dapat turun di sebelah timur komplek Pabrik Kertas Blabag Magelang dan ambil angkudes jurusan Tlatar Sawangan. Setelah sampai di Tlatar anda berganti angkudes jurusan Jrakah.

Rute kedua, dari bus AKAP anda dapat turun di terminal Muntilan kemudian berganti angkudes Jurusan Pasar Talun. Setelah sampai di Pasar Talun, berganti angkudes Jurusan Jrakah. Estimasi biaya jika berangkat dari Jogjakarta adalah Bis AKAP turun di pabrik kertas Blabag Rp.7.000,-, angkudes Blabag-Tlatar Rp3.000,-, Tlatar – Jrakah turun di Wonolelo Rp.4.000,-.

Eksotisme lokal dipadu dengan sejuknya hawa pegunungan di kawasan Merapi ini menjadi daya pikat istimewa bagi pengunjung. 

Jika menyukai jalur tracking yang menantang, anda dapat turun menuju bawah air terjun. Medan yang naik turun di bawah lembah cukup untuk membakar kalori yang tersimpan di dalam tubuh.

Namun jika anda kurang begitu menyukai tantangan, pilihan kedua adalah bercengkrama sembari menikmati kicauan burung dan gemuruh air terjun serta nikmatnya hawa pegunungan.

Advertisements

Menjadi sebuah ironi jika kawasan pantai yang notabene sebagai “tempat wisata”; yang mensyaratkan aspek estetika; penuh dengan sampah. Sampah memang menjadi problematika dasar yang tidak dapat terlepas dari perilaku kehidupan manusia.

Pantai Trisik, yang menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Kulonprogo memiliki karakteristik pantai yang menyerupai Pantai Parangtritis dengan hamparan pasir pantai yang terbentang memanjang hingga batas mata memandang, tidak terlepas dari masalah sampah ini.

Hujan semalaman yang mengguyur wilayah utara menyebabkan limpahan air hujan menghanyutkan apa saja yang ada disepanjang bantaran Sungai Progo menuju hilir, Samudera Indonesia. Limpahan banjir Sungai Progo tersebut akhirnya menyebar disekitar tempuran sungai, termasuk Pantai Trisik dan menyebabkan kawasan ini penuh dengan sampah.

Namun, sampah yang mengganggu pemandangan kawasan ini ternyata memberi berkah tersendiri bagi penduduk sekitarnya. Botol-botol bekas, plastik bekas, bahan-bahan dari plastik memberikan nilai tambah bagi mereka. Dengan antusias, lelaki, perempuan, bahkan anak-anak mengumpulkan sampah-sampah yang laku dijual, menjadikannya sebagai aktifitas yang menghibur dan menguntungkan.

Secara tidak langsung, aktifitas penduduk kawasan pantai ini ikut menjaga keseimbangan lingkungan kawasan pantai Trisik dengan mengambil sampah-sampah plastik yang sulit terurai alami.

Beberapa wanita tampak sedang mengumpulkan material yang dihanyutkan banjir  berupa kayu dan batang-batang kering untuk bahan bakar untuk memasak.   

Aktifitas di Pantai Trisik ini menjadi kegiatan yang menarik, terutama bagi anal-anak sembari melewatkan masa liburan sekolah mereka. Bersepeda di kawasan berpasir menjadi menu utama bermain, dengan tenaga ekstra, mereka berusaha untuk tetap seimbang melaju di tengah hamparan pasir lembut pantai ini.

Meski kawasan ini  penuh dengan sampah, namun tak mensurutkan sepasang muda-mudi ini untuk sekedar “memandang laut”, dengan mengatasnamakan ‘cinta’ bagaimanapun bentuk lingkungan sekitar, semua akan selalu tampak indah…seindah kebersamaan.